Dunia Marketing
adalah ranah yang berkembang dinamis sekali tak terkecuali ‘branding strategy’ yang menjadi salah satu perubahannya. Beda
zaman beda pula system yang dipergunakan. Dalam prakteknya branding strategy
melibatkan banyak sekali disiplin ilmu. Mulai disiplin ilmu marketing itu
sendiri, neurosicience,
cognitive-science, psychology, anthropology, art and design, matematika,
fisika dan berbagai disiplin ilmu yang lain.
Tak cukup dari
situ perkembangan media dan teknologi bisa merubah wajah teknik branding yang
sudah ada sekarang. Yang paling terasa perubahannya terutama adalah masalah ‘Branding Strategy’ yang ikut
berevolusi seiring dengan berkembangnya media interaksi yang digunakan customer.
Revolusi
besar-besaran juga terjadi di dunia digital yang mengarah pada makin canggihnya
perangkat telekomunikasi dengan harga yang semakin terjangkau. Banjirnya smartphone
dari berbagai kelas mulai dari yang premium sampai yang ‘asal terlihat smart’
juga menjadi salah satu otaknya. Keberadaan perangkat pintar ini sangat
mempengaruhi model interaksi customer
baik antar sesama mereka maupun dengan media interaksi baru yang sudah ada.
Namun meskipun
media interaksi sudah sangat berubah, satu hal yang tak pernah berubah adalah emosi manusia. Kalau dulu ketika orang
tersenyum dan berbuat baik kepada kita akan membuat kita merasa nyaman,
sekarang juga masih sama juga adanya. Begitu juga kalau ada orang yang selalu
sinis kepada kita, menyakiti perasaan kita atau mengkhianati kita akan membuat
kita marah dan cenderung menghindari orang tersebut.
Emosi secara
definisi adalah perasaan intens yang ditunjukkan kepada seseorang atau sesuatu.
Kata emosi diturunkan dari kata bahasa Perancis emotion, dari emouvoir
yang artinya kegembiraan dari bahasa Latin emovere
yang terdiri dari e- yang artinya
luar dan movere yang artinya
bergerak. Emosi memang pada umumnya di rangsang oleh sebuah stimuli yang berasal dari luar tubuh dan
dapat memberikan reaksi psikis maupun fisiologis.
Dalam ilmu
Biologi semua emosi berasal dari limbic
system otak yang kira-kira berukuran sebesar kacang walnut dan terletak di bagian
batang otak. Bagian ini bisa
dijadikan salah satu indicator kebahagiaan seseorang. Orang akan cenderung
merasa bahagia jika system limbic nya
tidak dalam kondisi aktif. Dengan kata lain, jika ada orang yang depresi
ataupun mendapatkan rangsangan berupa informasi yang negatif akan membuat
system ini menjadi aktif.
Suatu stimulus yang sama bisa jadi direspon
dengan sangat bervariasi oleh seseorang. Pengalaman dan kepribadian orang lah
yang merubah ‘cara pandang’ sesorang terhadap suatu rangsangan.
Charles
Darwin dalam bukunya “The
Expression of the Emotions on Man and Animals” menyatakan bahwa emosi
berkembang seiring waktu untuk membantu manusia memecahkan masalah.
Berkembangnya emosi sangat dipengaruhi oleh ragam pengalaman yang dialami oleh
manusia dan bagaimana ia menyikapinya.
Seperti halnya
hubungan antara customer dengan Brand. Brand adalah sebuah stimulus atau rangsangan
yang bisa disikapi sangat beragam oleh customer tergantung beragam pengalaman
yang dijalani oleh customer dengan Brand tersebut.
Jika sebuah
brand selalu memberikan apa yang sudah dijanjikannya kepada penggunanya (brand promise), bahkan melebihi apa
yang diharapakan customer (beyond customer
expectation), hal tersebut akan menghadirkan respond dan pengalaman positif
(positive experience) bagi customer.
Ketika seseorang
sudah merasakan banyak sekali pengalaman positif yang dilaluinya dengan suatu
Brand, secara otomatis ia akan merasa nyaman dan gampang menaruh kepercayaan (trust) terhadap brand tersebut. Dan
wujud nyata sebuah komitmen adalah sebuah adanya sebuah komitmen kesetiaan
menggunakan brand tersebut baik masa sekarang maupun masa yang akan datang (future intention).
Tak cukup dari
situ ketika emotional connection
antara brand dengan cutomer begitu kuat, kalau bahasa anak mudanya sudah ada ‘chemistry’ antara keduanya, customer
akan bersemangat untuk berbagi cerita dan pengalaman tentang ‘keharmonisan’ dan
segala hal baik antara brand kita kepada keluarga, sahabat atau
relasi-relasinya.
Kalau ada yang
coba-coba berusaha berbicara sesuatu yang miring tentang Brand kita, para
customer kita yang setia tak akan segan-segan membela Brand kita dengan
mati-matian, meskipun kita tak pernah membayar mereka untuk itu. Layaknya
seorang pria yang gagah berani membela pujaan hatinya dan menepis setiap gossip miring yang menghinggapi sang
belahan jiwa. Emosi yang kuat sudah terjalin kuat antara Brand dengan customer
kerapkali efektif untuk melahirkan
sebuah Brand Advocacy.
Keadaan sebaliknya
bisa juga terjadi, jika kualitas dari barang dan jasa masih jauh dari apa yang
diharapakan oleh customer, jangan pernah berharap customer akan memiliki kesetiaan
pada brand kita. Bisa jadi dengan mengingat brand kita hanya akan membangkitkan
emosi negatifnya saja. Setiap kali melihat Brand kita terpampang di baliho atau
iklan di jalan-jalan ia akan serta merta menceritakan ‘aib’ brand kita pada
orang di sebelahnya. Tak perduli berapa banyak memori indah yang pernah di
jalani, jika sering kali kita kecewakan customer, yang akan mereka ingat bisa
jadi hanya keburukan Brand kita saja.
Itulah
menariknya sisi emotional manusia, sampai kapanpun ia cenderung memiliki
karakter yang tegas. Ia hanya akan menjalin hubungan dengan orang yang
membuatnya merasa ‘nyaman’ saja. Sekali ia tersakiti seolah-olah tak pernah ada
kata maaf. Bisa jadi kata memaafkan terlontar keluar dari mulut kita, namun
nama dan segala memori buruk akan susah sekali untuk dihapuskan.
Bisa jadi ini
menjadi alasan mengapa seni menjalin hubungan hubungan emotional yang baik
antara sebuah Brand dengan customer, atau yang lebih kita kenal sebagai ‘Emotional Branding’ merupakan salah
satu teknik yang paling penting dengan tanpa mengesampingkan elemen-elemen
marketing yang lain. Bukan nama atau Brand yang kita penting, tapi reputasi
positif tentang nama kita yang teramat sangat penting. Karena hal itu
berhubungan langsung dengan kepercayaan konsumen. Ketika nama sebuah Brand kita
sebut dan bisa membangkitkan emosi yang positif pada customer hal itu adalah
modal yang sangat menentukan kejayaan sebuah Brand.
Andai saja jika
semua pabrik Coca-Cola, gerai KFC atau Mc Donald dan juga Apple Store di seluruh dunia di luluh
lantakkan, tak akan butuh waktu lama bagi mereka untuk mengembalikan semuanya.
Mereka tak akan benar-benar habis meskipun secara fisik mereka sudah habis. Karena
masyarakat masih menginginkannya dan merindukan momen positif bersamanya.
Beda halnya
kalau sebuah brand memiliki hubungan emosional yang buruk dengan customernya,
tak peduli secanggih apapun teknologi yang dimilikinya, segenius apapun
orang-orang di balik R&D nya, dan seluas apapun jaringan distribusinya bahkan
sampai kutub sekalipun, kalau semua customer hanya mengingat emosi dan pengalaman
negatif dari brand tersebut, tanpa ada orang yang membakar atau merobohkan pun
Brand itu juga akan hancur dengan sendirinya.
Jadi hal itulah yang
menjadikan suatu alasan kuat mengapa ‘Emotional Branding’ menjadi salah satu
strategi Branding yang benar-benar diakui keefektifannya. (si)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar